Review: Kacaunya Dunia Persilatan (Hilman Mutasi, 2015)


Begitu liat trailer-nya di bioskop akhir tahun lalu, gue sangat tertarik untuk menonton Kacaunya Dunia Persilatan. Kenapa? Karena gue kangen sama film komedi yang "gila". Melihat trailer-nya yang kacau itu, gue sebetulnya ngga peduli sama cerita filmnya, selama gue bisa dibikin ketawa, I'm happy. Belum lagi jajaran cast-nya yang ada Tora Sudiro dan Aming, jaminan sableng mestinya. 

Sempat tertunda beberapa waktu, akhirnya gue sempat nonton juga tadi. Detik pertama film dibuka, gue langsung tau kenapa belum masuk seminggu, film ini udah banyak ilang dari bioskop dan penontonnya cuma 17ribuan aja.

Bukan, bukan karena film ini jelek. Tapi karena orang merasa bahwa film ini adalah film busuk yang sok lucu, sok niru-niru Comic 8, sok nyinyir-nyinyirin PendekarTongkat Emas, dan pasti dibikin ngga serius – apalagi kalau mengingat betapa Tora dan Aming udah ngga bisa “serius” lagi kalau sedang ngelucu (yang lantas malah jadi jayus). Jadi, buat apa ditonton?


Setelah menonton filmnya, gue bisa bilang kalau asumsi tersebut ada benar dan salahnya. Benar karena film ini nampaknya memang dibuat untuk niru-niru "keguoblokan" Comic 8 dan tentunya untuk nyinyir-nyinyirin Pendekar Tongkat Emas. Tapi salah adalah bahwa kalau orang-orang berpikir bahwa film ini dibuat ngga serius. Menurut gue, Kacaunya Dunia Persilatan bahkan dibuat terlalu serius untuk ukuran film parodi nyinyir seperti ini. Mereka bikin animasi yang keren bukan main, broooo!

Ya, buat gue, Kacaunya Dunia Persilatan adalah film parodi yang nyinyir -- masih nyinyir yang menyenangkan dan bisa dinikmati tentunya. Ala-ala Scary Movie gitu. Segala macam hal diparodiin dan dinyinyirin, bukan cuma Pendekar Tongkat Emas yang somehow memang menjadi “background” ceritanya secara menyeluruh. Vicky Prasetyo dengan bahasa anehnya diparodiin, tokoh-tokoh pendekar Indonesia zaman dulu pun diparodiin jadi Panci Tengkorak tukang jualan panci, Wira Sableng anggota MLM, Datuk Berdahak, dan masih banyak lagi. Dan alih-alih Sumbawa, mereka kayaknya ngambil set somewhere di Jawa Barat untuk menggambarkan latar belakang "padang rumput".

Yang bikin surprised adalah Darius Sinathrya. Setelah Merah Putih, Broken Hearts, dan Pendekar Tongkat Emas, image Darius di gue adalah aktor yang serius. Tapi melihat Darius dalam waktu berdekatan (gue nonton premiere Nada Untuk Asa kemarin, review coming soon), bikin gue sadar kalo Darius itu sebenarnya punya potensi yang besar sekali untuk jadi komedian atau memerankan sosok yang slengean. Walau badannya “badan serius”, tapi mukanya ternyata sangat iseng, sangat jail, sangat.. Lucu.

Tapi sayangnya… Komedi yang ditampilkan masih nanggung banget buat gue. Beberapa bisa bikin ketawa, tapi kebanyakkan bikin gregetan doang. “Kenapa ga digaspolin aja sihh?” Kalo misalnya ngga nanggung-nanggung, banyak main sound effect kayak sitkom gitu untuk memperkuat kelucuannya, gue cukup yakin filmnya bakal laku. Karena pada dasarnya orang-orang (termasuk gue) kangen sama film-film komedi. Kita-kita ini kangen dibikin ketawa pas nonton film. Hidup sudah berat kan ya, bro, masa ketawa aja masih dipersulit? Sayang, sayang... Potensinya besar, niatnya pun keliatan. Tapi kenapa justru "makanan utama" alias komedinya malah dibikin nanggung?

Nonton Kacaunya Dunia Persilatan membuat gue mengenang masa-masa keemasan Tora Sudiro dan Aming di Extravaganza dulu. Dan barusan aja gue berpikir, mendengar bahwa Tike, Ronal, Tora, dan Mieke Amalia mau syuting bareng dalam satu film (ga tau film apa tapinya), kok gue jadi ngerasa Kacaunya Dunia Persilatan adalah “pemanasan” sebelum masuk ke Extravaganza stars reunion itu ya? 

Komentar