REVIEW
Dilema adalah sebuah film omnibus yang diarahkan oleh 4 sutradara, Adilla Dimitri dan trio R: Robert Ronny, Robby Ertanto, dan Rinaldy Puspoyo. And... This movie is surprisingly very very very GOOD and you must and really really must watch it!
Yang membuat kagum adalah kenyataan bahwa Dilema diarahkan oleh empat kepala dengan empat pemikirkan berbeda, tapi empat orang tersebut mampu menghilangkan ego mereka dan bersatu untuk membuat sebuah film yang menyatu dengan sempurna. Tidak ada yang saling menonjol, karena semuanya telah bercampur menjadi satu kesatuan film yang walau ceritanya dipaparkan secara terpisah dan terfragmen, tapi (lagi-lagi) mampu disatukan dengan begitu cantik dan indahnya.
Jajaran pemainnya bukan hanya bermodalkan nama besar, tapi juga perfectly cast and perfectly performed. Sama seperti para sutradara, mereka juga mampu meredam egoisme mereka dan tampil all natural, dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.
Dari pemain muda macam Abimana Aryasatya yang sedang naik daun tapi penampilannya tak jauh berbeda dengan karakter-karakter sebelumnya, Ario Bayu yang terus tampil konstan di tiap filmnya, Reza Rahadian yang mulai meredup tapi tetap mampu menunjukkan penampilan yang pas di setiap kemunculannya, Verdi Solaiman yang kerap menjadi pemeran pendukung di banyak film tapi tidak pernah tampil setengah-setengah -- pun di Dilema, Pevita Pearce yang tampil berani (dalam arti sesungguhnya); ke artis usia menengah seperti Wulan Guritno sendiri yang tampil sangat berbeda dibanding film-filmnya yang lain, Baim Wong yang biasa hanya tampil di TV tapi ternyata punya kharisma yang cukup kuat di layar lebar, Winky Wiryawan yang walau tampil tak sebaik penampilannya di Demi Dewi, tapi mampu menampilkan karakter yang kuat sebagai seorang ekstrimis, dan Lukman Sardi yang walau pesonanya sudah menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap menunjukkan kualitas yang tak bisa dipungkiri memang bagus adanya; hingga aktor tua macam Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy dan Roy Marten yang kharisma dan kepiawaiannya bermain tokoh tak pudar seiring bertambahnya usia mereka. Atensi spesial patut diberikan kepada Roy Marten sebagai tokoh sentral film ini yang mampu bertransformasi menjadi sosok yang arogan tapi tetap memiliki kelembutan di sisi lain.
Sebagai film yang muncul di awal tahun, Dilema telah menetapkan standar yang sangat tinggi bagi film Indonesia tahun ini. Dilema sangat sulit untuk dilupakan, dan akan sangat mungkin untuk membuat Anda kembali lagi ke bioskop dan menontonnya lagi, karena pace film yang meningkat secara perlahan seiring film berjalan mampu membuat Anda masuk ke dalam film dan membuat Anda ikut geram, takut, semangat, dan merasakan kesedihan yang sama seperti yang ditampilkan para tokohnya di film tersebut.
Dilema bisa dikatakan menyingkap tabir kelam kota Jakarta yang selama ini jarang diangkat ke permukaan -- mungkin karena faktor yang sama seperti yang digambarkan di film, takut akan sosok yang mampu merusak hidup Anda karena berani melawannya. Tapi salut untuk Wulan Guritno dan rumah produksinya yang baru seumur jagung ini untuk menampilkan sebuah karya yang berani dan berbeda, serta tidak setengah-setengah dalam membuatnya. Sangat patut ditunggu karya berikutnya dari WGE Pictures!
~Tuhan tak perlu dibela. Tuhan tidak menghakimi manusia seperti yang dilakukan manusia kepada manusia lainnya!~
Komentar
Posting Komentar